Asuransi Kesehatan Cashless

Sering kita mendengar atau ditawarkan asuransi kesehatan cashless, atau sering disebut “tidak usah bawa uang kalau rawat inap di RS tinggal gesek aja”

Ya asuransi kesehatan cashless ialah salah satu asuransi kesehatan yang menggunakan kartu untuk membayar biaya rawat inap. Ada 2 macam asuransi cashless ini dilihat dari kartunya :

  • Sekedar kartu member asuransi biasa
  • Kartu member asuransi dengan pita magnetik di belakangnya

Dari segi teknologi tentunya yang menggunakan pita magnetik lebih maju karena semua data nasabah tersimpan di dalam pita magnetik tersebut. Namun dari segi klaim hampir bisa dikatakan sama saja.

Continue reading

Advertisements

Asuransi Sakit Kritis Tahap Awal

Bagaimana definisi suatu penyakit kritis ?

Ini sangat berbeda-beda tergantung penyakitnya.Bagi orang awam, mendengar penyakit kritis ialah penyakit seperti jantung, stroke, kanker, koma dll…

Bagi dunia asuransi atau perusahaan asuransi, penyakit kritis mempunyai definisi yang sangat beragam. Contoh : Penyakit kritis ginjal, bagi perusahaan asuransi disebut krisis bila kedua ginjal sudah tidak berfungsi dan harus menjalani cuci darah secara rutin.

Jadi bila nasabah mengambil manfaat proteksi atas penyakit kritis, nasabah tidak bisa klaim jika hanya 1 ginjal nya yang rusak. Klaim sakit kritis tidak keluar, namun jika ia mengambil asuransi kesehatan lainnya itu bisa diklaim selama sesuai dengan kentetuan yang ada di polis.

Kabar baiknya, saat ini perusahaan asuransi mengeluarkan proteksi atas Sakit Kritis Tahap Awal. Bedanya dengan sakit kritis biasa yaitu, pada tahapan awal kondisi kritis perusahaan asuransi sudah mau membayarkan klaimnya. Untuk contoh sakit ginjal di atas, nasabah sudah bisa klaim jika ia mengambil manfaat sakit kritis tahap awal.

Perusahaan yang sudah menebitkan proteksi atas sakit kritis tahap awal antara lain : Prudential, Commonwealthlife, Generali, Panin Life, dan Allianz Life.

NILAI TUNAI PADA POLIS , YANG KADANG TIDAK TUNAI

Coba pelajari lagi polis asuransi yang Anda beli , apakah memiliki Nilai Tunai atau tidak. Tidak semua polis mempunyai Nilai Tunai.

Apakah Nilai Tunai itu ? Nilai Tunai ialah sejumlah uang yang nasabah bisa dapatkan apabila membatalkan suatu polis atau hendak mengambil sejumlah uang yang ada pada polis, yang besarnya sesuai dengan premi yang dibayarkan dan ketentuan lain pada polis.

Tidak semua Nilai Tunai bisa diambil seperti layaknya pada ATM tetapi harus mengikuti prosedur yang berlaku. Pada beberapa polis bila Anda mengambil Nilai Tunai maka dianggap sebagai pinjaman yang harus dikembalikan dan dikenakan bunga ( Ini biasanya pada asuransi tradisional ). Sedangkan pada polis nontradisional/unitlink Anda bisa mengambil tanpa dikenakan bunga, tetapi akan dikenakan pajak 20% atas bunga bila untuk usia polis tertentu.

 

Konsep Asuransi Syariah

Sebagian kalangan Islam beranggapan bahwa asuransi sama dengan menentang qodlo dan qadar atau bertentangan dengan takdir. Pada dasarnya Islam mengakui bahwa kecelakaan, kemalangan dan kematian merupakan takdir Allah. Hal ini tidak dapat ditolak. Hanya saja kita sebagai manusia juga diperintahkan untuk membuat perencanaan untuk menghadapi masa depan. Allah berfirman dalam surat Al Hasyr: 18, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (masa depan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha mengetahui apa yang engkau kerjakan”. Jelas sekali dalam ayat ini kita diperintahkan untuk merencanakan apa yang akan kita perbuat untuk masa depan.

Dalam Al Qur’an surat Yusuf :43-49, Allah menggambarkan contoh usaha manusia membentuk sistem proteksi menghadapi kemungkinan yang buruk di masa depan. Secara ringkas, ayat ini bercerita tentang pertanyaan raja Mesir tentang mimpinya kepada Nabi Yusuf. Dimana raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan dia juga melihat tujuh tangkai gandum yang hijau berbuah serta tujuh tangkai yang merah mengering tidak berbuah.

Nabi Yusuf sebagaimana diceritakan dalam surat Yusuf, dalam hal ini menjawab supaya raja dan rakyatnya bertanam tujuh tahun dan dari hasilnya hendaklah disimpan sebagian. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang disimpan untuk menghadapi masa sulit tesebut, kecuali sedikit dari apa yang disimpan.

Sangat jelas dalam ayat ini kita dianjurkan untuk berusaha menjaga kelangsungan kehidupan dengan meproteksi kemungkinan terjadinya kondisi yang buruk. Dan sangat jelas ayat diatas menyatakan bahwa berasurnasi tidak bertentangan dengan takdir, bahkan Allah menganjurkan adanya upaya-upaya menuju kepada perencanaan masa depan dengan sisitem proteksi yang dikenal dalam mekanisme asuransi.

Jadi, jika sistem proteksi atau asuransi dibenarkan, pertanyaan selanjutnya adalah: apakah asuransi yang kita kenal sekarang (asuransi konvensional) telah memenuhi syarat-syarat lain dalam konsep muamalat secara Islami. Dalam mekanisme asuransi konvensional terutama asuransi jiwa, paling tidak ada tiga hal yang masih diharamkan oleh para ulama, yaitu: adanya unsur gharar (ketidak jelasan dana), unsur maisir (judi/ gambling) dan riba (bunga). Ketiga hal ini akan dijelaskan dalam penjelasaan rinci mengenai perbedaan antara asuransi konvensional dan syariah.

Asuransi jiwa syariah dan asuransi jiwa konvensional mempunyai tujuan sama yaitu pengelolaan atau penanggulangan risiko. Perbedaan mendasar antara keduanya adalah cara pengelolaannya pengelolaan risiko asuransi konvensional berupa transfer risiko dari para peserta kepada perusahaan asuransi (risk transfer) sedangkan asuransi jiwa syariah menganut azas tolong menolong dengan membagi risiko diantara peserta asuransi jiwa (risk sharing).

Selain perbedaan cara pengelolaan risiko, ada perbedaan cara mengelola unsur tabungan produk asuransi. Pengelolaan dana pada asuransi jiwa syariah menganut investasi syariah dan terbebas dari unsur ribawi.

Secara rinci perbedaan antara asuransi jiwa syariah dan asuransi jiwa konvensional dapat dilihat pada uraian berikut :

Kontrak atau Akad
Kejelasan kontrak atau akad dalam praktik muamalah menjadi prinsip karena akan menentukan sah atau tidaknya secara syariah. Demikian pula dengan kontrak antara peserta dengan perusahaan asuransi. Asuransi konvensional menerapkan kontrak yang dalam syariah disebut kontrak jual beli (tabaduli).

Dalam kontrak ini harus memenuhi syarat-syarat kontrak jual-beli. Ketidakjelasaan persoalan besarnya premi yang harus dibayarkan karena bergantung terhadap usia peserta yang mana hanya Allah yang tau kapan kita meninggal mengakibatkan asuransi konvensional mengandung apa yang disebut gharar —ketidakjelasaan pada kontrak sehingga mengakibatkan akad pertukaran harta benda dalam asuransi konvensional dalam praktiknya cacat secara hukum. Sehingga dalam asuransi jiwa syariah kontrak yang digunakan bukan kontrak jual beli melainkan kontrak tolong menolong (takafuli). Jadi asuransi jiwa syariah menggunakan apa yang disebut sebagai kontrak tabarru yang dapat diartikan sebagai derma atau sumbangan. Kontrak ini adalah alternatif uang sah dan dibenarkan dalam melepaskan diri dari praktik yang diharamkan pada asuransi konvensional.

Tujuan dari dana tabarru’ ini adalah memberikan dana kebajikan dengan niat ikhlas untuk tujuan saling membantu satu dengan yang lain sesama peserta asuransi syariah apabila diantaranya ada yang terkena musibah. Oleh karenanya dana tabarru’ disimpan dalam satu rekening khsusus, dimana bila terjadi risiko, dana klaim yang diberikan adalah dari rekening dana tabarru’ yang sudah diniatkan oleh semua peserta untuk kepentingan tolong menolong.

Kontrak Al-Mudharabah
Penjelasan di atas, mengenai kontrak tabarru’ merupakan hibah yang dialokasikan bila terjadi musibah. Sedangkan unsur di dalam asuransi jiwa bisa juga berupa tabungan. Dalam asuransi jiwa syariah, tabungan atau investasi harus memenuhi syariah.

Dalam hal ini, pola investasi bagi hasil adalah cirinya dimana perusahaan asuransi hanyalah pengelola dana yang terkumpul dari para peserta. Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan seluruh (100 persen) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.
Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalian si pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

Kontrak bagi hasil disepkati didepan sehingga bila terjadi keuntungan maka pembagiannya akan mengikuti kontrak bagi hasil tersebut. Misalkan kontrak bagi hasilnya adalah 60:40, dimana peserta mendapatkan 60 persen dari keuntungan sedang perusahaan asuransi mendapat 40 persen dari keuntungan.

Dalam kaitannya dengan investasi, yang merupakan salah satu unsur dalam premi asuransi, harus memenuhi syariah Islam dimana tidak mengenal apa yang biasa disebut riba. Semua asuransi konvensional menginvestasikan dananya dengan mekanisme bunga.

Dengan demikian asuransi konvensional susah untuk menghindari riba. Sedangkan asuransi syariah daolam berinvestasi harus menyimpan dananya ke berbagai investasi berdasarkan syariah Islam dengan sistem al-mudharabah.

Tidak Ada Dana Hangus
Pada asuransi konvensional dikenal dana hangus, dimana peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa jatuh tempo. Begitu pula dengan asuransi jiwa konvensional non-saving (tidak mengandung unsur tabungan) atau asuransi kerugian, jika habis msa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi asuransi yang sudah dibayarkan hangus atau menjadi keuntungan perusahaan asuransi.

Dalam konsep asuransi syariah, mekanismenya tidak mengenal dana hangus. Peserta yang baru masuk sekalipun karena satu dan lain hal ingin mengundurkan diri, maka dana atau premi yang sebelumnya sudah dibayarkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil saja yang sudah diniatkan untuk dana tabarru’ yang tidak dapat diambil.
Begitu pula dengan asuransi syariah umum, jika habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka pihak perusahaan mengembalikan sebagian dari premi tersebut dengan pola bagi hasil, misalkan 60:40 atau 70:30 sesuai dengan kesepakatan kontrak di muka. Dalam hal ini maka sangat mungkin premi yang dibayarkan di awal tahun dapat diambil kembali dan jumlahnya sangat bergantung dengan tingkat investasi pada tahun tersebut.

Manfaat Asuransi Syariah
Asuransi syariah dapat menjadi alternatif pilihan proteksi bagi pemeluk agama Islam yang menginginkan produk yang sesuai dengan hukum Islam. Produk ini juga bisa menjadi pilihan bagi pemeluk agama lain yang memandang konsep syariah adil bagi mereka. Syariah adalah sebuah prinsip atau sistem yang ber-sifat universal dimana dapat dimanfaatkan oleh siapapun juga yang berminat.

Demikianlah sekilas ulasan mengenai asuransi syariah. Semoga ulasan ini menambah wawasan dan pengetahuan anda.

(Sumber: Sinar Harapan)

Waiver/Payor

Waiver/Payor adalah salah satu dari Rider(Manfaat Tambahan) yang bisa ditambahkan pada asuransi dasar (Asuransi Jiwa). Pengertian umum dari Waiver/Payor ini adalah manfaat pembebasan premi hingga periode waktu tertentu (sesuai kontrak polis)

Namun syarat pembebasan premi ini berbeda2 pada setiap perusahaan asuransi, biasanya ialah :

Untuk beberapa asuransi unitlink yang dimaksud Payor ialah pembebasan premi asuransi dan premi investasinya, bila tertanggung utama menderita salah satu dari 2 hal diatas. Namun bila si pembayar premi (dalam hal ini bukan sebagai tertanggung utama atau tertanggung tambahan) maka premi harus tetap dibayarkan.

Ada juga mengartikan Payor ialah si pembayar premi, sehingga bila si pembayar premi (bukan tertanggung utama) menderita salah satu dari 2 hal di atas maka polis akan dibebaskan dari pembayaran premi sementara proteksi terhadap tertanggung utama berjalan terus.

Kondisi Kritis

Bagi yang mempunyai asuransi unit link sudah tidak asing lagi mendengar tentang manfaat penyakit kritis, tetapi hati-hati dalam mengambil polis karena yang dimaksud dengan penyakit kritis ialah kondisi kritis dikarenakan salah satu penyakit atau tindakan yang memenuhi kriteria yang tercantum pada Polis.

Sehingga kriteria penyakit kritis itu berbeda-beda, antara nasabah dan agen atau orang lain bisa juga berbeda, yang menjadi acuan ialah Polis atau dokumen yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi berkaitan dengan kontrak asuransi

Cacat Total dan Tetap

tpdSalah satu yang paling sering ditambahkan pada asuransi dasar (asuransi jiwa) ialah Cacat Total & Tetap. Apa yang dimaksud dengan Cacat Total & Tetap ?

Beberapa kriteria untuk Cacat Total & Tetap ialah cacat yang disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit sehingga :

  • Untuk usia <16 thn tidak dapat melaksanakan tugas sehari-hari, yang dimaksud melaksanakan tugas sehari-hari seperti tidak dapat berjalan kaki tanpa bantuan dan harus tinggal di rumah / rumah sakit dengan perawatan medis
  • Untuk usia >16 thn tidak dapat mencari nafkah secara terus menerus
  • menyebabkan hilangnya 2 bola mata atau 2 tangan atau 2 kaki.

Asuransi Cacat Total & Tetap merupakan asuransi tambahan yang hanya bisa diambil jika membeli Asuransi Jiwa